Rupiah Menguat, Pasar Modal Bergairah: Optimisme Pasca Kebijakan BI
| Rupiah Menguat, Pasar Modal Bergairah: Optimisme Pasca Kebijakan BI |
Langkah Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan kembali memberikan angin segar bagi perekonomian nasional. Setelah keputusan tersebut diumumkan, Rupiah langsung menunjukkan penguatan signifikan, sementara pasar modal bergerak positif diiringi peningkatan volume transaksi dan masuknya kembali dana asing ke tanah air.
Kebijakan ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa stabilitas ekonomi Indonesia berada dalam jalur pemulihan yang solid, sekaligus menjadi momentum bagi dunia usaha dan investor untuk kembali agresif.
Setelah beberapa minggu mengalami fluktuasi akibat tekanan dolar AS, Rupiah kini menunjukkan penguatan stabil di kisaran Rp15.400 per dolar AS.
Menurut analis pasar uang, keputusan BI untuk memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi katalis utama pergerakan positif ini.
Langkah ini tidak hanya membantu menstimulasi pertumbuhan ekonomi domestik, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan investor asing terhadap stabilitas fundamental Indonesia.
“Kebijakan BI kali ini menunjukkan komitmen kuat menjaga momentum pertumbuhan, tanpa mengorbankan stabilitas nilai tukar,” ujar salah satu ekonom senior dari Jakarta Institute of Finance.
Dampak langsung dari kebijakan moneter longgar ini terasa di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat naik lebih dari 1,2% pada penutupan perdagangan harian. Sektor perbankan, properti, dan konsumsi menjadi pendorong utama penguatan indeks.
Saham-saham bank besar seperti BBRI, BBCA, dan BMRI mencatatkan kenaikan signifikan, disusul oleh emiten properti yang diuntungkan dari prospek penurunan suku bunga kredit.
Investor ritel dan institusi kini mulai menunjukkan minat kembali setelah periode ketidakpastian global yang cukup panjang.
Pemangkasan suku bunga menjadi sinyal positif bagi pelaku usaha.
Biaya pinjaman yang lebih rendah akan memacu ekspansi bisnis, terutama di sektor riil seperti manufaktur, konstruksi, dan transportasi.
Tak hanya itu, permintaan domestik diperkirakan akan meningkat seiring dengan bertambahnya daya beli masyarakat.
Pemerintah pun optimistis kebijakan ini dapat menjaga target pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,1–5,3% pada tahun 2025.
“Kebijakan moneter yang akomodatif, didukung fiskal yang kuat, menjadi kombinasi ideal untuk mendorong investasi dan konsumsi,” ungkap Deputi Gubernur BI.
Kebijakan BI ini juga menjadi perhatian pasar regional.
Sementara beberapa bank sentral di Asia masih mempertahankan suku bunga tinggi untuk melawan inflasi, langkah Indonesia dianggap progresif dan berani, karena tetap memperhitungkan stabilitas nilai tukar dan cadangan devisa.
Rupiah yang menguat dan pasar modal yang bergairah menunjukkan bahwa kepercayaan global terhadap ekonomi Indonesia masih tinggi, bahkan di tengah ketidakpastian geopolitik dunia.
Penguatan Rupiah dan meningkatnya gairah pasar modal menjadi bukti nyata bahwa kebijakan BI berhasil membangkitkan optimisme.
Namun, tantangan ke depan tetap ada — mulai dari menjaga inflasi agar tetap terkendali hingga memastikan sektor riil benar-benar merasakan dampak positif dari suku bunga rendah.
Dengan koordinasi yang solid antara BI, pemerintah, dan sektor swasta, Indonesia berpotensi memasuki fase pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.